Selasa, 03 Juli 2012

Karakter Seorang Negarawan


Oleh : Rachmad Yuliadi Nasir


KabarIndonesia - Banyak orang yang tampil karena mereka hanya di untungkan oleh politik. Sehingga bila orang menyebutnya negarawan selalu di kaitkan dengan kepemimpinan politik.

Terkait kepemimpinan dalam pemerintahan, persoalan integritas kepemimpinan bukanlah semata-mata berhubungan dengan moralitas secara sempit. Namun dalam dimensi yang luas dimana sifat dan karakter kenegarawananlah yang sangat di perlukan.

Kaderisasi kepemimpinan yang di hasilkan dari mekanisme demokrasi ternyata belum mampu menghasilkan pemimpin yang memiliki karakter dan ciri-ciri seorang negarawan.Dimana dalam membuat suatu keputusan kita harus tegas dan yakin bahwa keputusan tersebut adalah benar (jangan mundur menentukan sebuah keputusan).

Negarawan dalam arti yang benar adalah tokoh yang sangat istimewa dan terbatas jumlahnya. Ciri-ciri khas dari seorang negarawan adalah:

Pertama, memiliki kemampuan yang sangat cemerlang dan jeli; lebih merupakan bakat yang terpadu dengan keberanian melawan arus dan bertekad melakukan perubahan dan pembaruan struktural.]

Kedua, berusaha memasuki hal-hal baru secara total, memilih menjadi pelopor atau pionir.

Ketiga, karena yang di kemukakan adalah hal yang total baru, maka konsep yang di kemukakan menjadi mengejutkan dan meragukan pihak-pihak yang masih berpikir dalam pola lama.
 
Keempat, mampu menawarkan solusi secara tuntas, serta reformasi/revolusi total yang positif dan konstruktif, hingga menawarkan konsep dan aksi menghentikan krisis besar yang melanda satu bangsa atau beberapa bangsa.

Kelima, mampu menawarkan harapan dan peluang nyata,  membangun harga diri dan bernilai tinggi.

Keenam, berani menghadapi risiko bertentangan dengan rezim dan atau kekuatan yang berkuasa.

Rumusan tentang negarawan memang tidak di rinci dengan jelas bagaimana mengenai penjelasannya. Seorang negarawan selalu memikirkan nasib bangsa dan negara sebagai suatu kesatuan yang utuh, serta tidak mementingkan secara pribadi/kelompok politiknya, namun mementingkan kepentingan bangsa di atas segalanya.

Salah satu ciri sifat negarawan sejati adalah adanya sikap rendah hati yang di milikinya. Kekuasaan tidak membuatnya sombong, angkuh dan merendahkan martabat orang lain. Sikap rendah hati ini juga akan tercermin dari sikap penerimaan mereka atas sebuah proses politik menuju tahta kekuasaan.
 
Seorang negarawan harus mempertaruhkan dirinya, pribadi dan golongannya demi kepentingan negara yang jauh lebih besar, dan lebih tinggi. Sosok negarawan bukan hanya semata-mata menjaga citra yang baik di tengah-tengah masyarakatnya. Sebab apabila kita selalu berhitung terhadap citra, maka kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam membuat suatu keputusan kita harus bersikap  tegas dan mempunyai keyakinan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang benar. Dimana konsekuensi yang di ambil dari semua itu adalah sikap pantang mundur (senantiasa meyakini kebenarannya).(*)

Sumber :
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&jd=Karakter+Seorang+Negarawan&dn=20120410151243

Mahfud MD: Negara Ini Merindukan Negarawan


Prof. Dr. Moh. Mahfud MD Ketua Mahkamah Konstitusi

Negara ini merindukan sosok negarawan yang bisa membangun bangsa. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dalam seminar "Merindukan Negarawan" yang diadakan Ikatan Keluarga Alumni UII di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, Kamis (24/5/2012).
"Kita rindu negarawan, bukan hanya para pemain-pemain politik yang ada saat ini. Negarawan itu adalah orang yang track recordnya bagus, ambisinya stabil dan tidak kecanduan kekuasaan," kata Mahfud yang juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII) tersebut.
Menurut Mahfud, hanya masyarakat yang dapat menilai apakah seorang pemimpin bangsa dapat disebut negarawan atau tidak. Sosok yang dinilainya sebagai negarawan diantaranya Presiden pertama RI Soekarno dan Wakil Presiden, Muhammad Hatta. Keduanya berbeda dalam pandangan politik, tapi tidak berperang politik. Melainkan bersatu untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyat.
"Bung Karno punya beberapa lawan politik, tapi kalau lawannya sakit dia mengirimkan dokter untuk mereka. Tidak ada perang politik. Mereka menggunakan kekuasaannya hanya untuk rakyat," paparnya.
Ketika ditanya, apakah Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono juga sosok negarawan, Mahfud enggan menjawabnya. "Sosok negarawan, yang menilai hanya rakyat. Saya tidak akan menilai orang lain," kata dia. 



Sumber : KOMPAS.com

Senin, 02 Juli 2012

Anies Baswedan: Indonesia Miskin Negarawan


Rektor Universitas Paramadina Jakarta, Anies Baswedan berpendapat, Indonesia saat ini miskin terhadap sosok-sosok negarawan. Situasi ini muncul karena para elite politik tidak bisa memberikan teladan kepada masyarakat.

Hal itu dikatakan Anies dalam seminar nasional 'Merindukan Negarawan' yang digelar di Jakarta, Kamis (24/5). Dalam seminar itu hadir juga sebagai pembicara Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Ryamizard Ryacudu, dan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri sebagai pembicara kunci.

Dalam pemaparannya, Anies mengatakan, seorang sosok negarawan itu selalu bisa hadir untuk memberikan harapan kepada pengikutnya. "Jangan meratap," ujar Anies.

Anies juga mengatakan, untuk menjadi seorang negarawan maka orang tersebut harus bisa mengikuti kata hati nurani dan berani menjalankannya. Ia juga mengatakan, seorang negarawan itu akan selalu menarik perhatian wartawan dan juga sejarawan.

"Nah mengapa kita sekarang merasa sepi terhadap sosok negarawan? Penyebabnya karena mereka yang berada di panggung itu tidak bisa memberikan teladan yang baik di rumah-rumah," sebut Anies.

Lebih lanjut Anies mengatakan, seorang negarawan itu tidak hadir untuk memecahkan masalah seorang diri. Tetapi para pendiri negara ini hadir memecahkan masalah dengan cara mengajak semua orang. "Itulah yang dilakukan oleh negarawan-negarawan kita dulu seperti Bung Karno, Bung Hatta dan lain sebagainya," ujarnya mengakhiri

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --

Sabtu, 16 Juni 2012


Beastudi Etos Gembleng Mahasiswa Jadi Negarawan
Semarang, ANTARA Jateng - Beastudi Etos bersama Dompet Dhuafa akan menggembleng sekitar 150 mahasiswa dari keluarga sederhana penerima beasiswa dari lembaga ini untuk menjadi negarawan muda dalam Temu Etos Nasional 2012 yang berlangsung di Semarang pada 14-19 Juli 2012.
Koordinator Humas Temu Etos Nasional (Tens) 2012, Jafar Arifin, dalam keterangannya di Kantor ANTARA Biro Jawa Tengah di Jalan Veteran 1 B Semarang, Rabu, menjelaskan, peserta berasal dari mahasiswa penerima Beastudi Etos dari 14 perguruan tinggi negeri.
Akan tetapi, kata Jafar, mahasiswa nonpenerima beastudi dan warga Semarang lain juga boleh mengikuti sejumlah kegiatan yang akan menghadirkan mantan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Bos Jamu Sido Muncul Irwan Hidayat, tokoh Dompet Dhuafa Erie Sudewo, Rektor Undip Prof. Sudharto P. Hadi, serta sejumlah motivator dan alumni penerima Beastudi Etos yang sukses.
Tens bertujuan untuk menumbuhkan semangat bangga sebagai bangsa Indonesia, membekali kemampuan rekayasa sosial, membangun jaringan untuk menguatkan gerakan cinta sebagai bangsa Indonesia dengan mahasiswa sebagai poros penggerak.
Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan bisa menjadi media untuk membangun jaringan dengan lembaga-lembaga yang memiliki vis pengabdian kepada bangsa.
Lembaga Beastudi Etos dan Dompet Dhuafa telah memberikan beasiswa kepada ribuan lulusan SLTA pintar dari keluarga sederhana untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, terutama negeri.
Selain memberikan beastudi hingga delapan semester, lembaga tersebut secara berkelanjutan juga memberikan motivasi dan pelatihan peningkatan kapasitas diri.

Sumber : http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=62186#.T9xsI3rN7To